Thursday, May 3, 2012

Songsong Hari Pendidikan dengan Semangat Mahasiswa

Rasanya baru saja tempo hari kita duduk di bangku SD. Baru beberapa hari yang lalu kita berlomba menembus pintu gerbang kelulusan UAN di SMA, plus ketertatihan kita mengikuti SNMPTN untuk dapat mengenyam pendidikan di kampus ini. Baru kemarin pula rasanya kita mencium tangan ayah dan ibu meminta doa restu berangkat ke tempat merakit mimpi. Eh, tahu-tahunya sekarang sudah pada sibuk di UNDIP dengan seabrek aktivitasnya.
Bersyukur sekali rasanya, kawan. Kampus ini memberikan kita fasilitas yang serba digital, gedung yang megah dan dilengkapi dengan wifi, perpustakaan yang luas, plus penantian meja dunia kerja setelah kita lulus nanti. Gratis? Hebatnya adalah banyak mahasiswa di perguruan tinggi lain harus berjuang keras meraih pendidikan yang sudah serba mahal ini. Sedangkan di sini, UNDIP, dengan uang beasiswa 3 juta kurang setengah orang tua kita tak perlu lagi melepas peluh dan penat terlalu banyak karena kita disekolahkan (dibantu) oleh Negara.
Coba deh kita hitung-hitung, jikalau kita tak berhasil sampai di sini, apa mungkin kita sanggup kuliah di fakultas teknik, kedokteran atau fakultas lainnya yang kita mau? Apa bisa kita sampai di kota lumpia ini, duduk manis di kelas memperhatikan dosen mengajar tanpa mesti keteteran memikirkan biaya kuliah? Mari kita andaikan jika kita kuliah di tempat lain.  Sedikitnya satu semester kita perlu dua juta, perbulannya kita perlu uang makan dan sewa kos sekitar satu juta. Maka selama 18 bulan kuliah  sudah hampir 25 juta biaya yang kita dihabiskan. Dan orang tua kita harus mengeluarkan sebanyak itu. Kalau ada 8 semester yang akan kita lewati artinya kita butuh 48 bulan, sedikitnya 60 juta yang harus ayah dan ibu kita bayar. Sedangkan di sini, bisa dibilang banyak bantuan bagi orang-orang pintar, kawan. 
Kita jauh lebih beruntung dibandingkan anak-anak jalanan yang harus menjadi pengamen, pengasong, atau bahkan pengemis untuk hanya sekadar mencari seteguk air (apalagi sesuap nasi). Dengan uang beasiswa sebanyak yang kita terima, apalah arti uang tiga ribu yang senilai nasi uduk bagi kita. Itu sudah sangat berarti bagi orang-orang yang tak seberuntung kita. Rasanya tak ada lagi alasan bagi kita untuk mengeluhkan susahnya memahami Mattek, micro, atau Eldas di perkuliahan. Hehe.. maklum anak siskom.
Lalu, siapa sih yang membawa kita ke tahap ini? Tentu saja Tuhan Yang Maha Penyayang yang memberikan semua kenikmatan hidup ini. Pertanyaannya, lewat siapa pertolongan itu disampaikan pada kita? Sejak kapan kita bebas memilih dan meraih pendidikan? Pada siapa kita harus berterima kasih?
Kita semua tahu, sekarang ini Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2 Mei. Maka apakah hari itu cukup hanya dengan diperingati saja dengan upacara dan serangkaian acara? Tidak! Sungguh hari itu adalah salah satu momen terpenting bangsa Indonesia yang sudah mulai mengangkat kembali derajatnya melalui tangan-tangan Ki Hajar Dewantara dan pahlawan lainnya. Tanpa Bapak Pendidikan kita itu, pendidikan di negeri ini tidak akan bisa semaju sekarang. Tanpa jasa beliau, kita takkan mungkin melihat program-program pemerintah yang memberi pendidikan dasar secara gratis, memberi bantuan ini dan itu untuk pendidikan kita. Tanpa segala usaha dan semangat yang dicurahkan oleh Bapak Pendidikan ini, rasanya takkan mungkin ada pelajar dari luar negeri masuk ke sini.
Sekali lagi, apa cukup hari pendidikan hanya untuk diperingati saja? Apakah arti 2 Mei 1889 itu hanya sebatas tanggal kelahiran seorang Raden Mas Soewardi Soeryaningrat? Sekali lagi tidak. Di zaman sekarang, telah banyak Dewantara-Dewantara lainnya yang berjuang keras demi pendidikan kita. Kita lihat orang tua kita, peluhnya tak pernah kering untuk membuat kita setidaknya tak harus berprofesi lebih rendah dari ayah dan ibu kita. Kita lihat guru-guru kita, berjuang mengajar kita dengan sabar untuk membantu kita menjadi generasi yang terdidik dan terpelajar. Dosen-dosen kita di sini, meninggalkan anak-anak mereka di rumah hanya untuk memberi kita ujian susulan, remedial, atau SP. Tidakkah kita ingat, ayah menjual motornya untuk biaya kita terbang ke Semarang, dosen memberi tugas untuk mendongkrak hasil kemalasan belajar kita?
            Hebat bukan? Semua itu mereka lakukan selalu, setiap hari, tanpa menunggu tanda bintang melekat di bajunya sebagai tanda bahwa orang tua dan guru-guru kita telah banyak sekali berjasa. Membuat kita tahu bagaimana rasanya sekolah di bangunan ber-AC ini.
Lalu teman-teman, apakah yang sudah kita coba berikan untuk orang tua, guru, atau paling tidak untuk diri kita sendiri? Ingatkah kita setiap ada perapelan uang beasiswa, kita mengeluh dan “pray for beasiswa”? Eh, giliran saat Kuis atau UAS ditunda, kita kegirangan bukan main. Saat diminta menyisihkan sepuluh dua puluh ribu untuk kegiatan kampus, mulut-mulut kita protes. Tapi, saat kita dibayar padahal hanya untuk duduk mendengar dosen mengajar, kita masih saja merasa kurang.
Lalu dengan adanya peringatan Hari Pendidikan Nasional yang ke-123 ini, apa kita masih sama? Masih suka bermalas-malasan, menjadikan buku pajangan berdebu. Apa kita hanya akan begitu? Padahal sudah banyak sekali yang dilakukan para pejuang pendidikan untuk kita, terutama orang tua dan guru-guru kita. Apa yang bisa kita balas untuk mereka, teman? Ada? Puaskah kita hanya dengan nilai C? Mana semangat kita, kawan?! Dulu kita mendaftar di antara puluhan peserta SNMPTN dengan semangat api membara—sampai hangus—demi membahagiakan orang tua kita dan menjadi anak yang berpendidikan.
            Sudah hilangkah diri kita yang dulu? Haruskah kita menunggu kita tiba di meja seminar agar kita sadar apa yang seharusnya kita lakukan dari sekarang? Apa kita harus selalu menunggu sang 2 Mei tiba? Tidak, teman. Hari untuk pendidikan itu adalah setiap hari, tidak hanya saat menjelang UAS, tidak pula saat tiba tahun ajaran baru. Tapi hari untuk belajar itu adalah setiap saat kita bernafas. Setiap kali jantung kita berdetak lah kita menunjukkan rasa syukur kita pada Yang Esa dan rasa terima kasih kita pada ayah, ibu, bapak dan ibu guru kita. Itu saja, kawan. Tak perlu kita paksa saat dekat-dekat ujian. Setiap goresan pena kita adalah bentuk semangat dan terima kasih kita.
            Kita tahu kita takkan bisa membalas jasa-jasa orang tua dan guru kita. Tapi setidaknya kita akan terus berusaha untuk tidak mengecewakan mereka. Mari, kawan. Tak pantas pula kita hanya menunggu sampai tiba HarDikNas untuk mengacungkan tangan ke langit dan berteriak...
 “AKU BISA!”

Karya : Merajut Kata